Google+

Teurimoeng Geunaseh Aceh

Leave a comment

November 28, 2016 by irmalida

Ini kali pertama ke Kota berlabel serambi mekah, Aceh Nangroe Darussalam tepatnya di Banda Aceh area yang akan saya dan Team kelilingi, dan InshaaAllah Takengon, aceh-1Lhokseumawe, dan lainnya menyusul. Selepas perjalanan ke Medan di hari Senin, dini hari saya sudah harus membelah jakarta dan merapat ke area Bandara sebelum Subuh tiba, berharap dapat rakaat Subuh sebelum pukul 5 siap take off. Saya pilih perjalanan jam itu mengingat jarak tempuh Jakarta – Aceh yang harus diselingi ‘transit untuk transfer ke bandara lain’, Aktivitas seperti ini yang agak melelahkan, masuk bandara dan keluar bandara, membawa semua barang bawaan di kabin dengan berbekal boarding pass yang sama yang kadang bisa tetap dengan pesawat yang sama atau berganti pesawat.

Sayapilih LION AIR sebagai maskapai kepercayaan selama perjalanan menuju Aceh, mengingat Garuda Indonesia harganya cukup mempesona dikisaran kepala 1 di one way-nya. aceh-2Alhamdulillah di satu baris tempat duduk saya orangnya asik semua, Sayapilih LION AIR sebagai maskapai yang mengantar saya ke Aceh. Kelebihan bagasi per kilo dari LION Air ke Aceh adalah Rp 27.500,- Kemana pun saya Visit biasanya minimal 5 koli saya bawa promotional stuffs untuk didistribusikan, ya masih OK lah walau lebih murah by Mex Berlian19.500,-/kg bila saya bisa set up deliverynya by cargo, tapi apalah daya, maklum team pada mencar ke Medan jadilah tidak sempat kirim by ekspedisi. Kembali lagi bicara masalah Tetangga satu baris, Ada Megas dan Reza, dua laki-laki yang jadi teman ngobrol sepanjang perjalanan panjang melelahkan CGK – KNO dan BTJ, perjalanan perdana ke aceh-3Aceh ini mengharuskan transit di Medan dan switch plane ..diatas tadi cuaca buruk hampir 20 menit kami tidak bisa turun, putar-putar sampai memungkinkan turun, jadi sangat deg degan lantaran Ibu-ibu seberang saya melafaz Allah Akbar terus menerus kala turbulansi pesawat, atmosfernya jadi ‘gimana gitu’…bikin lemes dengkul, sampai akhirnya pak pilot bilang kalau akhirnya kita bisa landing. Bergegas menuju counter transit dan turun lagi ke landasan untuk berganti tumpangan, ya ampun, bisakah kelak ada cara lebih efisien buat PENUMPANG bukan hanya aman buat maskapai, berasa ‘oneng’ turun naik pesawat dengan boarding pass yang sama, whatta! Untung lah tetangga satu row gak habisnya menghibur, membuat perjalanan agak melelahkan ini tambah lelah gegara ketawa ketiwi melulu dan ditutup dengan berfoto norak di depan pesawat parkir.

Saya sudah bayangkan saya akan suka sekali di Aceh, yes I am, exactly FALLING IN LOVE FROM THE FIRST TIME, Team saya sudah suruh keliling duluan jangan tunggu saya yang pasti sampai delay karena cuaca yang tidak bersahabat dan proses transfer pesawat yang makan waktu, di Bandara Sultan Iskandar Muda saya tertegun, kecil sekali ya bandaranya, berpikir mau solat di bandara tapi akhirnya memutuskan langsung meluncur ke tempat menginap mengingat bawaan banyak dan shalat Dzuhur di Mesjid aceh-4Raya Baiturrahman setelahnya. Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid Kesultanan Aceh yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam pada tahun 1022 H/1612 M. Bangunan indah dan megah yang mirip dengan Taj Mahal di India ini terletak tepat di jantung Kota Banda Aceh dan menjadi titik pusat dari segala kegiatan di Aceh Darussalam. Seperti dilansir wikipedia, Sewaktu Kerajaan Belanda menyerang Kesultanan Aceh pada agresi tentara Belanda kedua pada Bulan Shafar 1290 Hijriah/10 April 1873 Masehi, Masjid Raya Baiturrahman dibakar. Kemudian, pada tahun 1877 Belanda membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman untuk menarik perhatian serta meredam kemarahan Bangsa Aceh. aceh-9Pada saat itu Kesultanan Aceh masih berada di bawah pemerintahan Sultan Muhammad Daud Syah Johan Berdaulat yang merupakan Sultan Aceh yang terakhir. Sebagai tempat bersejarah yang memiliki nilai seni tinggi, Masjid Raya Baiturrahman menjadi objek wisata religi yang mampu membuat setiap wisatawan yang datang berdecak kagum akan sejarah dan keindahan arsitekturnya, di mana Masjid Raya Baiturrahman termasuk salah satu Masjid terindah di Indonesia yang memiliki arsitektur yang memukau, ukiran yang menarik, halaman yang luas dengan kolam pancuran air bergaya Kesultanan Turki Utsmani dan akan sangat terasa sejuk apabila berada di dalam Masjid ini.

Perjalanan disana kami memilih memakai Bentor, becak Motor yang juga kami pakai di Medan, lebih hemat dan jauh lebih mobile, ketimbang mobil mengingat areanya kami belum paham dan dititik tertentu ada macet aceh-5karena banyak perbaikan jalan dan pembangunan. Aceh sama seperti Medan sedang dirundung Hujan tak menentu, perjalanan kami pun tersendat-sendat mengingat moda transportasi yang kami gunakan cukup buat baju basah sampai daleman, nasib. Maklum judulnya BUKAN JALAN-JALAN, jadilah bisa menikmati Aceh di subuh hari, disaat semua orang terlelap, eh kami keluyuran, melihat Museum Tsunami yang merupakan sebuah museum di Banda Aceh dan dirancang sebagai monumen simbolis untuk bencana gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004 sekaligus pusat pendidikan dan tempat perlindungan darurat andai tsunami terjadi lagi. Seperti dilansir oleh wiki bahwa Museum Tsunami Aceh dirancang oleh arsitek asal Bandung, Jawa Barat, Ridwan Kamil. aceh-6Museum ini merupakan sebuah struktur empat lantai dengan luas 2.500 m² yang dinding lengkungnya ditutupi relief geometris. Di dalamnya, pengunjung masuk melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi — untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami. Dinding museum dihiasi gambar orang-orang menari Saman, sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius suku Aceh. Dari atas, atapnya membentuk gelombang laut. Lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami. Bangunan ini memperingati para korban, yang namanya dicantumkan di dinding salah satu ruang terdalam museum, dan warga masyarakat yang selamat dari bencana ini. Selain perannya sebagai tugu peringatan bagi korban tewas, aceh-7museum ini juga berguna sebagai tempat perlindungan dari bencana semacam ini pada masa depan, termasuk “bukit pengungsian” bagi pengunjung jika tsunami terjadi lagi.

Subuh di Aceh ternyata berbeda dengan di Tangerang, Jam 4 saya bangun seperti biasa bebersih dan pukul 4.30 langsung Shalat Subuh, ternyata di Aceh jam segitu belum masuk Adzan… Pantas saja jam 4.30 keluar wisma yang lumayan ada di tengah kota, kok sepi sekali… aceh-8bahkan saya dan team pun sempat berkelakar ‘jangan sampai kita ditembak gara-gara jam segini keluyuran’, padahal niat mau ke Mesjid Baiturrahman mau dengar kajian, kirain dekat dari Wisma ternyata… JAUH!

Akhirnya di Mesjid kami shalat lagi… hehehe.
Mesjid raya di subuh ini sejuk. MashaaAllah INDAH.
Masjid Baiturrahman dihadiri banyak jamaah di subuhnya, pemandangan diluar Mesjid tidak kalah menarik dari di dalamnya, pembangunan Payung Elektrik macam di Madinah membuat Mesjid raya ini makin berbenah pasca tsunami. aceh-12aceh-13aceh-11

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

#RockinStat

  • 36,634 hits
%d bloggers like this: